Mengapa nikmat menjadi adzab?


بسم الله الرحمن الرحيم

Mengapa nikmat menjadi adzab?

Alloh تعالى berfirman (Ar Ro’d : 11) yang artinya :

“Sesungguhnya Alloh tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Alloh menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. [Ar Ro’d:11]

Al Allaamah Muhammad Al Amin Asy Syinqithi –rohimahulloh- menafsirkan ayat ini sebagai berikut:

Alloh تعالى menjelaskan dalam ayat yang mulia ini bahwa tidaklah Dia merubah keadaan yang ada pada suatu kaum dari nikmat dan ‘afiyat sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka berupa ketaatan kepada Alloh جل وعلا .

Maknanya adalah bahwa Dia tidak akan membalik kenikmatan yang telah dianugerahkan pada mereka sampai mereka merubah keadaan yang ada pada mereka berupa ketaatan dan amal sholih, Alloh تعالى menjelaskan makna ini dalam ayat-ayat yang lain seperti firman-Nya (Al Anfaal:53), yang artinya:

“Sesungguhnya Alloh sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [Al Anfaal:53]

Dan firman-Nya (Asy Syuuro:30) yang artinya:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. [Asy Syuuro:30]

Sungguh di dalam ayat ini juga Alloh تعالى menjelaskan bahwa jika Dia menghendaki keburukan terhadap suatu kaum maka tidak akan ada yang dapat menolaknya, perkara tersebut juga dijelaskan dalam ayat-ayat yang lain, seperti firman-Nya (Al An’aam:147), yang artinya:

“Dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”. [Al An’aam:147]

Dan ayat-ayat yang lainnya yang seperti itu.

Dalam ayat yang mulia ini Alloh berfirman :

“sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Ar Ro’d:11]

Ini membenarkan bahwa perubahan yang dilakukan oleh sebagian mereka, sebagaimana yang terjadi dalam Perang Uhud yaitu perubahan yang dilakukan oleh pasukan pemanah maka musibah itu menimpa mereka semua.

Sungguh Rosululloh صلى الله عليه وسلم pernah ditanya:

أنهلك وفينا الصالحون ؟

Artinya:

Apakah kami akan dibinasakan sedangkan ditengah-tengah kami ada orang-orang sholih?

Maka beliau menjawab:

نعم ، إذا كثر الخبث

Artinya:

“Ya, jika telah banyak kemaksiyatan”.

Wallohu a’lam. [Tafsiirul Qur’an bil Qur’an Min Adhwaa’il Bayaan, halaman:275 I’dad : Prof. Dr. Sayid Muhammad Sadati Asy Syinqithi , Daarul Fadhiilah – KSA]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s