Ungkapan cinta dari Alloh تعالى bagian (1)


بسم الله الرحمن الرحيم

white_rose_center

Ungkapan cinta dari Alloh تعالى

Bagian (1)

Ketika kita menyatakan bahwa kita mencintai Alloh, atau seseorang mengatakan saya mencintai Alloh. Maka ungkapan ini adalah ungkapan yang mudah dan bukanlah ungkapan yang istimewa, namun yang istimewa dan spesial adalah apa yang diungkapkan oleh Alloh تعالى bahwa Dia mencintai fulan. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم :

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ . فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، فَيُنَادِى جِبْرِيلُ فِى أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى الأَرْضِ

Artinya:

“Jika Alloh mencintai seorang hamba maka Dia menyeru Jibril, sesungguhnya Alloh mencintai fulan maka cintailah dia, Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru penghuni langit, sesungguhnya Alloh mencintai fulan maka cintailah dia, penduduk langit pun mencintainya, kemudian diberikan padanya penerimaan di bumi”. [HR. Al Bukhori 3209, Muslim 2637 dari Abu Huroiroh رضي الله عنه, lafadz milik Al Bukhori]

Di dalam riwayat Muslim ada tambahan :

وَإِذا أَبغض عبدا دعا جبريلَ عليه السلام ، فيقول : إِني أُبْغِضُ فلانا فَأَبْغِضْه، قال: فَيُبْغِضُه جبريلُ ، ثم ينادي في أهل السماء : إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فلانا فأَبغضوه ، ثم تُوضَعُ له البغضاءُ في الأرض

Artinya:

“Dan jika Dia membenci seorang hamba maka Dia menyeru Jibril lalu berfirman: “Sesungguhnya Aku membenci fulan maka bencilah fulan”. Beliau bersabda: Jibril pun membencinya, kemudian menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Alloh membenci fulan maka bencilah dia’. Lalu diberikan padanya kebencian dalam (hati) penduduk bumi”.

Di dalam riwayat Muslim dari Suhail bin Abi Sholih, dia berkata, ‘Kami sedang berada di Arofah, maka lewatlah Umar bin Abdul Aziz yang sedang di musim (haji), manusia ketika itu berdiri dan melihat padanya, aku berkata pada bapakku, ‘Wahai bapakku, sesungguhnya aku melihat Alloh mencintai Umar bin Abdul Aziz’. Dia berkata, ‘Mengapa begitu?’ Aku berkata, ‘Karena kecintaan manusia dalam hati mereka padanya’. Dia berkata, ‘Maukah aku kabarkan padamu? Sesungguhnya aku mendengar Abu Huroiroh menyampaikan hadits dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم …. kemudian menyebut hadits tersebut”. [Lihat Jami’ul Ushul Min Ahaditsir Rosul 6/4784, Maktabah Asy Syamilah]

Bagaimana menggapai cinta Alloh?

Jawabannya adalah dengan melakukan beberapa perkara berikut:

1. Mengikuti Rosul صلى الله عليه وسلم

Alloh تعالى berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah Aku, niscaya Alloh mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali Imron:31]

Al Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, ‘Ayat yang mulia ini adalah hakim bagi setiap orang yang mengklaim cinta pada Alloh, sedangkan dia tidak berada di atas jalan nabi Muhammad maka dia adalah berdusta atas klaimnya pada perkara tersebut sampai dia mengikuti syari’at Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan agama nabi ini dalam seluruh perkataan-perkataanya, perbuatan-perbuatannya, dan keadaan-keadaannya, sebagaimana terdapat dalam kitab Ash Shohih dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم , bahwa beliau bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Artinya:

“Barangsipa yang beramal dengan sebuah amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak”.

Dan untuk inilah Alloh berfirman:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah Aku, niscaya Alloh mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.”

Yaitu kamu akan mendapatkan lebih dari apa yang kamu cari berupa cinta kalian pada-Nya yaitu kecintaan-Nya pada kalian, ungkapan ini lebih agung dari ungkapan yang pertama, sebagaimana sebagian ulama ahli hikmah berkata, ‘Bukanlah istimewa kamu mencintai, akan tetapi yang istimewa adalah kamu dicintai’. Al Hasan Al Bashri dan ulama salaf lain mengatakan, ‘Sebuah kaum mengklaim bahwa mereka mencintai Alloh, maka Alloh menguji mereka dengan ayat ini’. [Tafsir Al Qur’anul ‘Adzim I/493-494, Daarussalaam – Riyad]

Dalam hal apa sajakah kita mengikuti Rosul صلى الله عليه وسلم ?

Tentu dalam segala hal, karena Rosul صلى الله عليه وسلم adalah teladan manusia dalam segala hal sebagaimana Alloh تعالى berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari Qiyamat dan yang banyak mengingat Alloh”. [QS. Al Ahzab:21]

2. Mengerjakan ibadah-ibadah nafilah

Yang dimaksud ibadah nafilah adalah ibadah sunnah atau ibadah tambahan, yang hukumnya tidak sampai pada wajib atau fardu. Sebenarnya ini sudah masuk dalam kategori mengikuti Rosul صلى الله عليه وسلم , akan tetapi saya tambahkan untuk menegaskan akan keutamaannya, karena nafilah itu ibadah yang boleh dikerjakan dan boleh tidak, jika dipandang dengan pemahaman ilmu fiqih. Maka banyak kaum muslimin yang meninggalkannya, padahal ibadah nafilah ini akan meningkatkan derajat seseorang di sisi Alloh تعالى.

Alloh تعالى berfirman kepada Rosul-Nya عليه الصلاة والسلام :

ومن اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Artinya:

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) nafilah bagimu; mudah-mudahan Robb-mu mengangkatmu ke tempat terpuji”. [QS. Al Isro’:79]

Di dalam sebuah hadits qudsi Alloh تعالى berfirman:

من عادى لى وَلِيًّا فقد آذَنْتُهُ بالحرب وما تقرب إلىَّ عبدى بشىء أحب إلى مما افترضت عليه وما يزال عبدى يتقرب إلىَّ بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذى يسمع به وبصره الذى يُبصر به ويده التى يبطش بها ورجله التى يمشى بها وإن سألنى لأعطينه وإن استعاذنى لأعيذنه

Artinya:

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan perang dengannya, tidak ada sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan sesuatu yang telah Aku fardukan padanya, dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (ibadah) nafilah sampai aku mencintainya, jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, Aku adalah penglihatannya yang dia melihat dengannya, Aku adalah tangannya yang dia berbuat dengannya, dan Aku adalah kakinya yang dia melangkah dengannya, jika dia meminta kepada-Ku maka niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka niscaya Aku akan melindunginya”. [HR. Al Bukhori 6137, Ibnu Hibban 347, Al Baihaqi 20769, dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah I/4. (Jami’ul Ahadits 8/82, Maktabah Asy Syamilah)]

Hadits qudsi ini menunjukkan pada kita bahwa orang yang senantiasa melakukan ibadah nafilah maka dia akan dicintai oleh Alloh تعالى .

Bersambung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s