Seorang Imam mewasiyatkan untuk menguburkannya di depan qiblat, apakah wasiyatnya harus ditunaikan?


بسم الله الرحمن الرحيم

Seorang Imam mewasiyatkan untuk menguburkannya di depan qiblat, apakah wasiyatnya harus ditunaikan?

Soal:

Seorang Imam Masjid Jami’ berwasiyat sebelum wafatnya jika dia wafat maka dikuburkan di depan qiblat masjid jami’ tersebut, apakah perbuatan ini benar?

Fatwa:

Wasiyat ini batil karena tidak boleh dia dikuburkan di dalam masjid, tidak boleh pula di qiblatnya. Wasiat ini adalah wasiyat batil dan wajib dia dikuburkan di pekuburan bersama manusia.

Adapun mengubur di dalam masjid sungguh Nabi telah melarangnya dan melarang pula menjadikan kuburan sebagai masjid serta beliau melaknat orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, ketika itu beliau akan wafat memperingatkan ummatnya bahwa ini perbuatan Yahudi dan Nashoro, karena hal ini adalah jalan menuju syirik pada Alloh, karena membangun masjid di atas kuburan dan menguburkan mayat di dalamnya adalah jalan menuju syirik pada Alloh pada para penghuni kuburan yang dikubur di dalam masjid, manusia meyakini bahwa para penghuni kubur yang dikubur di dalam masjid mampu memberikan manfaat atau menolak kemadhorotan, dan mereka mempunyai kekhususan yang sudah seyogyanya bertaqorrub kepada mereka dengan ketaatan-ketaatan pada selain Alloh. Maka wajib bagi kaum muslimin untuk berhati-hati dengan fenomena-fenomena yang berbahaya ini. Dan hendaklah masjid bersih dari kuburan-kuburan, dan juga dibangun di atas pondasi tauhid dan aqidah yang shohihah. Alloh berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Artinya:

“Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Alloh. Maka janganlah kamu memohon seseorangpun di dalamnya di samping (memohon) Alloh”. [Al Jin:18]

Maka wajib masjid-masjid itu untuk Alloh, dan bersih dari fenomena-fenomena kesyirikan sehingga dilaksanakan di dalamnya peribadatan hanya pada Alloh saja yang tidak ada sekutu baginya, ini adalah kewajiban kaum muslimin. Walloohul Muwafiq.

***

Mufti : Asy Syaikh Muhammad Ash Sholih Al ‘Utsaimin

Sumber : Fatawa Asy Syaikh Muhammad Ash Sholih Al ‘Utsaimiin I/169-170, Cetakan: I Daarul ‘Alamil Kutub, Riyad KSA,

Penterjemah: Ahmad Sobari Asy Syirbuniy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s