Hukum mengganti niyat dalam sholat


بسم الله الرحمن الرحيم

Mengganti niyat dalam sholat

Soal:

Seseorang ikut sholat bersama imam dengan niyat sholat witir, kemudian dia ingat ketika dipertengahan sholat bahwa dia belum sholat ‘isyaa’ lalu dia mengganti sholatnya menjadi ‘isyaa’, apakah hukumnya?

Fatwa:

Yang demikian itu tidak sah, karena berpindah dari sesuatu yang telah tertentu ke sesuatu yang telah tertentu pula adalah tidak sah, demikian juga dari sesuatu yang mutlaq ke sesuatu yang mutlaq, adapun berpindah dari sesuatu yang tertentu ke sesuatu yang mutlaq adalah sah.

Contoh untuk yang pertama: jika seseorang masuk dalam sholat ashar, kemudian dia ingat bahwa dia sholat dzuhur tanpa wudhu’, ketika dipertengahan sholat dia beralih dari sholat ashar ke sholat dzuhur maka yang demikian ini tidak sah. Karena ibadah yang sudah tertentu itu harus diniyatkan oleh manusia sejak awalnya sebelum masuk ke dalamnya, adapun di pertengahannya maka maknanya bahwa sebagian yang lalu di atas niyat yang baru terjadi tanpa maksud, sedangkan nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى

Artinya:

“Amal-amal itu hanyalah dengan niyat dan setiap orang hanya akan mendapat apa yang dia niyatkan”. (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam contoh terdahulu juga menjadikan dua sholat itu tidak sah, sholat ashar tidak sah karena dia telah membatalkannya dengan beralihnya dia ke sholat dzuhur, dan sholat dzuhurpun tidak sah karena dia tidak meniyatkannya sejak awalnya.

Contoh kedua: yaitu beralih dari mutlaq ke sesuatu yang tertentu, misal seseorang berdiri untuk melakukan sholat sunnah dua rokaat lillaahi ‘Azza wa Jalla, kemudian dia ingat bahwa dia belum sholat fajar, kemudian dia berniyat sholat fajar, maka yang demikian ini tidak sah karena dia beralih dari mutlaq ke sesuatu yang tertentu, dan sesuatu yang tertentu harus meniyatkannya sejak awal.

Contoh yang ketiga: beralih dari sesuatu yang tertentu ke mutlaq, misal seseorang masuk dengan niyat sholat fajar, kemudian dia berkehendak untuk menjadikannya sunnah mutlaqoh, maka yang demikian ini sah, karena niyat sholat tertentu itu dalam kenyataan mencakup dua niyat; niyat mutlaq sholat dan niyat penentuan. Jika dia meninggalkan niyat untuk sholat tertentu maka tetap ada niyat mutlaq sholat.

Dengan ketentuan di atas, maka apa yang dilakukan oleh penanya tersebut tidak sah, karena keadaannya itu sama dengan keadaan yang pertama yang telah kami sebutkan.

Untuk itu wajib bagi penanya mengulangi sholat ‘isyaa’, dia bersegera melaklukannya sebelum tengah malam.

Dan jika seseorang ikut berjama’ah bersama imam dalam sholat tarowih dengan niyat sholat ‘isyaa’ maka sholatnya sah, karena dia telah meniyatkannya sebelumnya. Dan yang shohih (dari pendapat para ulama) adalah bolehnya orang sholat fardhu menjadikan orang yang sholat sunnah sebagai imam, dia telah masuk bersama imam pada rokaat pertama dari sholat tarowih, dan jika masuk ke rokaat yang kedua maka dia menyempurnakan satu rokaat, adapun jika orang itu termasuk orang yang harus mengambil imam, bahwa jika dia masuk bersama imam pada rokaat yang pertama dari sholat tarowih maka dia menyempurnakannya dua rokaat, dan jika masuk pada rokaat yang kedua maka dia menyempurnakan tiga rokaat.

Mufti : Asy Syaikh Muhammad Ash Sholih Al ‘Utsaimin

Sumber : Fatawa Asy Syaikh Muhammad Ash Sholih Al ‘Utsaimiin I/415-416, Cetakan: I Daarul ‘Alamil Kutub, Riyad KSA

Penterjemah: Ahmad Sobari Asy Syirbuni

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s