Adab-adab Shoum (Puasa)


بسم الله الرحمن الرحيم

Adab-adab Shoum (Puasa)

Shoum adalah ibadah yang dikhususkan oleh Alloh Ta’ala bahwa dia adalah untuk Alloh dan Alloh sendiri yang akan membalasnya, ini membuktikan akan keutamaannya yang khusus. Namun apabila ibadah yang istimewa ini tidak dibarengi oleh adab-adabnya maka dikawatirkan kita hanya mendapatkan lapar dan dahaganya saja, sungguh merugi orang yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga dalam shoum.

Berikut ini adalah beberapa adab dalam shoum yang harus senantiasa kita menjaganya:

1. Makan sahur sebelum fajar.

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه dia berkata, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda :

تَسَحَّرُوا، فإِنَّ فِي السَّحُورِ بركة

Artinya :

“Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur terdapat barokah”. [HR. Al Bukhori, Muslim, At Tirmidzi, dan An Nasa’i, lihat Jaami’ul Ushuul Min Ahaditsir Rosuul (VI/4529)]

Waktu jeda antara selesai sahur dengan fajar shodiq (shubuh) adalah sekadar membaca Al Qur’an lima puluh ayat. Sebagaimana diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنه dia berkata, ‘Kami makan sahur bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم , kemudian kami berdiri untuk melakukan sholat’. Dia ditanya, ‘Berapa saat diantara keduanya?’ Dia menjawab, ‘Sekadar membaca lima puluh ayat’. [HR. Al Bukhori, Muslim, At Tirmidzi, dan Abu Dawud, lihat Jaami’ul Ushuul Min Ahaditsir Rosuul (VI/4538)]

Makan sahur juga adalah pembeda antara shoumnya kaum muslimin dengan shoumnya ahlul kitab. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda :

فَصْلُ ما بين صيامِنا وصيامِ أهل الكتاب : أكلَةُ السَّحَرِ

Artinya :

“Pembeda antara shiyam kita dengan shiyam ahlul kitab : makan sahur”. [HR. Muslim, At Tirmidzi, Abu Dawud, dan An Nasa’i, dari ‘Amr bin Al ‘Ash رضي الله عنه, lihat Jaami’ul Ushuul Min Ahaditsir Rosuul (VI/4533)]

2. Menyegerakan(ta’jil) berbuka

Dari Sahl bin Sa’d رضي الله عنه bahwa Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda :

لا يزالُ الناسُ بخير ما عَجَّلوا الفِطْرَ

Artinya :

“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. [HR. Al Bukhori, Muslim, Malik(Al Muwatho’), dan At Tirmidzi, lihat Jaami’ul Ushuul Min Ahaditsir Rosuul (VI/4553)]

3. Menjaga lisan dan anggota tubuh agar tidak melakukan perbuatan yang mendatangkan dosa.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dia berkata, ‘Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda :

فإذا كان أحدكم صائما فلا يرفث ولا يجهل، وإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل : إني صائم ، مرتين

Artinya :

“Maka jika salah seorang dari kalian sedang shoum maka janganlah berkata keji(rofats), dan jangan pula berlaku bodoh, apabila seseorang memeranginya atau mencelanya, maka katakanlah: Saya sedang shoum, dua kali”. [HR. Al Bukhori]

Ibnu Hajar mengatakan, ‘rofats adalah kata-kata keji, ini dimutlakkan dengan demikian, jima’ dan pengantarnya, menyebutkannya bersama para wanita secara mutlak, ada kemungkinan juga lebih umum dari itu’.

Dan sabda beliau “ولا يجهلjangan pula berlaku bodoh, ‘Yaitu janganlah melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan orang bodoh seperti berteriak-teriak, dungu, dan yang seperti itu’. (Fathul Bari IV/104)

Di dalam sabda beliau yang lain, beliau bersabda :

مَن لم يَدَعْ قولَ الزُّورِ والعمَلَ بِهِ ، فَليسَ للهِ حاجة فِي أَن يَدَعَ طَعَامَهُ وشَرَابَهُ

Artinya :

“Barangsiapa yang tidak mencegah dirinya dari perkataan palsu dan berbuat dengannya, maka Alloh tidak butuh padanya untuk menahan tidak makan dan tidak minumnya”. [HR. Al Bukhori, Abu Dawud, Dan At Tirmidzi dari Abu Huroiroh رضي الله عنه , lihat Jaami’ul Ushuul Min Ahaditsir Roruul (VI/4571)]

Yang dimaksud dengan perkataan palsu adalah dusta, sedangkan berbuat dengannya adalah perbuatan-perbutan yang menjadi konsekwensinya. [Lihat Fathul Bari (IV/117)]

Inilah adab-adab shoum yang banyak dilalaikan atau bahkan tidak diketahui oleh kebanyakan dari orang-orang yang sedang shoum/puasa. Hendaklah mereka menjaga lisan dan perbuatannya dari segala hal yang dapat mengundang dosa. Bahkan hendaklah juga menjaga mata, telinga, dan hatinya.

Dalam hal ini maka manusia bertingkat-tingkat dalam shoum, diantaranya:

  1. Shoum Al ‘Umum, yaitu menahan perut(untuk tidak makan dan minum), dan kemaluan untuk tidak memperturutkan syahwat.
  2. Shoum Al Khusus, yaitu menahan mata, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota tubuh dari berbagai dosa.
  3. Shoum khusus Al Khusus, yaitu shoumnya hati dari keinginan-keinginan yang rendah, fikiran-fikiran yang menjauhkan dari Alloh تعالى. Serta menahannya dari apa yang selain Alloh تعالى secara menyeluruh. [Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin hal.58, Daaru ‘Ammar-Yordania]

Wallohu a’lam bish showab.

Karawang, 4 romadhon 1431 H

Al Faqiir ila ‘afwi Robbihi

Ahmad Sobari Asy Syirbuni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s