I’tikaf


بسم الله الرحمن الرحيم

I’tikaf

Tak terasa kita telah berada dipertengahan bulan romadhon, maka sebentar lagi kita akan memasuki sepuluh akhir di bulan yang penuh barokah ini. Diantara sunnah Rosul صلى الله عليه وسلم pada sepuluh akhir bulan romadhon adalah i’tikaf di masjid. Apakah i’tikaf di masjid itu?

I’tikaf secara bahasa adalah berdiri di atas sesuatu. Sedangkan secara syar’i tinggal yang dikhususkan. [1]

Yang dimaksud adalah tinggal di dalam masjid untuk beribadah. Sehingga orang yang tinggal di dalam masjid untuk beribadah kepada Alloh disebut mu’takif atau ‘akif. [2]

Dasar disunnahkannya i’tikaf adalah Al Kitab, As Sunnah, dan Ijma’ul Ummah. [3]

Diantaranya adalah firman Alloh Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il agar mereka membersihkan Baitulloh (Al Majid Al Harom) untuk manusia thowaf, i’tikaf, rukuk, dan sujud.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya :

“Dan Kami telah perintahkan kepada Ibrohim dan Isma’il, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thowaf, i’tikaf, ruku’ dan sujud”. [Al Baqoroh:125]

I’tikaf juga disyari’atkan dilakukan di masjid-masjid jami’ selain tiga masjid yang dimuliakan. Alloh Ta’ala berfirman :

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya :

“Janganlah kamu mencampuri mereka sedangkan kamu beri’tikaf di dalam masjid-masjid”. [Al Baqoroh:187]

Sedangkan hadits yang menyatakan bahwa tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid maka hadits ini diperselisihkan antara marfu’ dan mauqufnya. [4]

Rosululloh صلى الله عليه وسلم mencontohkan i’tikaf ini pada bulan romadhon di sepuluh akhir, bahkan menjelang wafatnya beliau i’tikaf pada dua puluh akhir romadhon. Abu Huroiroh رضي الله عنه menceritakan bahwa Rosululloh صلى الله عليه وسلم melakukan i’tikaf setiap romadhon pada sepuluh hari dan ketika tahun beliau diwafatkan maka beliau melakukan i’tikaf dua puluh hari. [5]

Bahkan sepeninggal beliau عليه الصلاة والسلام istri-istri beliau melanjutkannya sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisya رضي الله عنها : “Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم dahulu beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan romadhon sampai beliau diwafatkan oleh Allooh, kemudian diteruskan oleh istri-istri beliau setelahnya”. [6]

Keuntungan yang akan diperoleh dalam i’tikaf pada 10 akhir bulan romadhon:

1. Pahala menghidupkan sunnah Rosulullooh صلى الله عليه وسلم.

2. Lebih kondusif untuk beribadah dan bertaqorrub kepada Allooh تعالى.

3. Berharap mendapat lailatul qodr. Rosulullooh bersabda  صلى الله عليه وسلم:

تَحَرُّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَان

Artinya:

“Carilah lailatul qodr itu pada malam ganjil di 10 akhir bulan romadhon”. [7]

Agenda acara dalam i’tikaf :

1. Sholat

2. Membaca al Qur’an

3. Berdzikir

4. Berdo’a dan munajat

5. Beristighfar

6. Bersholawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم

7. Mudzakarotul ilmi

8. Muhasabatun Nafs(introspeksi diri), dll.

Hal-hal yang harus ditinggalkan dalam i’tikaf:

1. Berbuat sesuatu yang sia-sia.

2. Tidak berbicara sama sekali selama i’tikaf.

3. Membicarakan hal-hal yang dapat mengeraskan hati atau permusuhan dan dosa.

Hal-hal yang diperbolehkan dalam i’tikaf:

1. Keluar dari masjid untuk hajat yang penting seperti mandi dan buang air.

2. Mandi, menyisir rambut, memotong kuku, atau memotong rambut selama masih di dalam masjid.

3. Menerima kunjungan dari istri atau orang lain.

4. Mengantarkan pulang istri jika tidak ada yang mengantarkan sebagaimana Rosullooh r pernah mengantarkan istri beliau yaitu Shofiyah.

Pembatal-pembatal i’tikaf :

1. Keluar dari masjid dengan segaja tanpa ada hajat yang penting.

2. Jima’ dengan istri.

Wallahu a’lam bish showab.

Karawang, 14 Romadhon 1431 H

Ahmad Sobari

————————————————–

[1] Kifayatul Akhyar, Karya: Al Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al Husaini Al Hushoini, hal.297

[2] Lihat Lisanul ‘Arob IV/3058

[3] Kifayatul Akhyar, hal.297

[4] Shohih Fiqhis Sunnah II/151, Karya: Abu Malik Kamal bin As Sayid. Salim

[5] HR. Al Bukhori (2044)

[6] Al Bukhori (1922) dan Muslim (1172)

[7] HR. Al Bukhori(2017) dan Muslim(1169) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه

4 thoughts on “I’tikaf

  1. Asslamu’alaikum Wr Wb mohon pencerahannya, apakah lailatul qodr hanya akan allah berikan kepada org2 yang melakukan i’tikaf di masjid saja?

    • Wa ‘alaikumussalam warohmatullohi wa barokatuh, tidak ada keterangan dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa yang mendapatkan lailatul qodr itu hanya para mu’takifin di masjid saja. Akan tetapi para mu’takif itu mereka lebih kondusif untuk melakukan ibadah, berbeda dengan di rumah yang memang situasinya berbeda dengan masjid, dan di rumah banyak gangguan yang merusak kekhusyu’an ibadah. Dengan demikian i’tikaf itu mengoptimalkan ibadah seseorang di tempat yang diutamakan oleh Alloh yaitu Masjid. Wallohu a’lam.

      • Terima kasih atas penjelasannya bermanfaat sekali terutama buat saya pribadi. teruslah menyebarkan ilmu agama allah melalui blog anda krn sangat bermanfaat sekali buat banyak org. semoga allah memberikan ganjaran pahala kepada anda, aminn..

        Rgds
        Tofik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s