Benarkah kita kembali suci pada ‘idhul fithri?


بسم الله الرحمن الرحيم

Benarkah kita kembali suci pada ‘idhul fithri?

Kebanyakan dari kaum muslimin di negeri kita memaknai ‘idhul fithri dengan kembali suci, padahal kalau kita kembalikan pada asal katanya dalam bahasa arab maka ini adalah sebuah kesalahan. Dan tidak jarang juga para da’i dan khotib ikut dalam kesalahan ini. Jadilah kesalahan ini diterima secara turun-temurun dari generasi ke genarasi di negeri ini.

‘Idhul fithri berasal dari dua kata yaitu ‘idh (عيد) dan al fithri (الفطر) yang bersatu dalam sebuah satu kesatuan yang diistilahkan dalam bahasa arab dengan idhofah atau tarkib idhofiy. ‘Idh artinya kembali, disebut demikian karena dia akan kembali setiap tahun, yaitu dirayakan setiap tahun. Sedangkan al fithru artinya berbuka, yaitu berbuka setelah shoum atau berpuasa selama satu bulan penuh di bulan romadhon. Dengan demikian ‘Idhul Fithri artinya adalah kembali berbuka.

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda :

الفطر يوم يفطر الناس و الأضحى يوم يضحي الناس

Artinya:

“Al Fithru (‘Idhul Fithri) adalah pada hari manusia berbuka, Al Adha (‘Idhul Adha) adalah pada hari manusia menyembelih hewan qurban”. [HR. At Tirmidzi (802) dari ‘Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata, ‘Ini hadits hasan ghorib shohih dari sisi ini’. Dishohihkan juga oleh Al Albani dalam Shohih al Jami’ (4287)]

Inilah definisi yang ditetapkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم , sehingga kita tidak perlu lagi untuk mencari definisi yang lain.

Kemudian apakah setiap kita kembali suci setelah romadhon?

Maka jawabannya adalah kita tidak dapat menetapkannya karena kita tidak bisa menetapkan apakah ibadah shoum atau sholat atau yang lainnya di bulan romadhon akan diterima oleh Alloh ataukah tidak. Hal ini berkaitan dengan syarat diterimanya ibadah, yaitu :

1.       Ikhlas

2.       Sesuai dengan syari’at yang ditentukan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم

Dari sisi ikhlas maka kita tidak mengetahui apakah seluruh ibadah kita telah ikhlas ataukah berapa persen ibadah kita yang ikhlas, wallohu a’lam. Ditinjau dari sesuai dengan syari’at yang ditentukan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم maka kita berusaha mudah-mudahan telah sesuai apabila kita betul-betul telah berilmu tentang kaifiyah atau tatacara ibadah tersebut. Namun banyak juga diantara kaum muslimin yang dalam kaifiyah ibadah adalah hanya mengikuti kebanyakan orang dan belum pernah belajar tentang kaifiyah ibadah yang dia lakukan.

Alloh تعالى berfirman :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya:

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al Kahfi:103-104]

Al Imam Ibnu Katsir mengatakan, ‘Makna ini dari Ali رضي الله عنه bahwa ayat yang mulia ini mencakup Haruriyah (khowarij pent.) sebagaimana mencakup Yahudi dan Nasroni dan selain mereka, karena ayat ini turun tentang mereka secara khusus dan tidak tentang mereka bahkan lebih umum dari ini; sesungguhnya ayat ini adalah makiyah yaitu sebelum berbicara pada yahudi dan nasroni, juga sebelum adanya khowarij secara keseluruhan, akan tetapi ayat ini umum untuk setiap orang yang beribadah pada Alloh yang tidak dengan cara yang diridhoi kemudian dia menyangkan bahwa dia telah benar, bahwa amalnya diterima, padahal amalnya adalah salah dan tertolak. [Tafsir Ibnu Katsir, V/202-Taqiq: Sami bin Muhammad Salamah]

Dengan demikian kita belum tentu menjadi suci setelah romadhon usai, karena belum tentu amal kita diterima apabila amal ibadah kita tidak memenuhi persyaratan untuk diterima. Akan tetapi kita boleh berharap dan memohon kepada Alloh Ta’ala agar menerima amal ibadah kita selama romadhon.

Maka berbahagialah siapa yang telah berusaha ikhlas dan mengikuti sunnah Rosul صلى الله عليه وسلم , mudah-mudahan segala amal sholihnya diterima oleh Alloh, serta ibadah romadhon menjadi penghapus dosa yang lalu, mendatangkan maghfiroh dari Alloh, dan pembebas dari api neraka.

Saya ucapkan sebagaimana salafunash sholih mengucapkannya ketika mereka bertemu pada hari ‘ied :

تقبل الله منا ومنكم

Semoga Alloh menerima amal ibadah kita dan anda sekalian.

One thought on “Benarkah kita kembali suci pada ‘idhul fithri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s