Bersatunya kaum muslimin dalam shoum dan ‘idhul fithri adalah tuntutan syar’i dan penjelasan bagaimana agar hal tersebut terwujud

Setiap muslim menginginkan persatuan dalam segala bidangnya karena persatuan kaum muslimin adalah kekuatan yang sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya, termasuk dalam perkara-perkara yang berkaitan langsung dengan ibadah. Hanya satu yang dapat menyatukan kaum muslimin yaitu kembalinya mereka pada diinul islam sebagaimana diyakini dan dipraktekkan oleh Rosul dan para sahabatnya. Ketika ada diantara kaum muslimin mengambil selain jalan mereka maka itulah yang akan mengoyak dan menjauhkan kaum muslimin dari persatuan.

Dan diantara yang diidam-diidamkan oleh kaum muslimin adalah persatuan mereka dalam penetapan awal shoum romadhon dan akhirnya atau ‘idhul fithri. Apabila mereka berpegang dengan petunjuk Rosul dan para sahabatnya maka insya Alloh persatuan itu akan mudah terwujud, yaitu dengan menggunakan ru’yatul hilal atau menyempurnakan bilangan bulan jika tidak ada yang melihat hilal. Namun diantara kaum muslimin ada yang menggunaka metode lain atau jalan lain selain jalan dan petunjuk Rosul dan para sahabatnya maka terjadilah perbedaan-perbedaan diantara mereka sehingga sulit untuk bersatu.

Kemudian bagaimana cara agar persatuan itu terwujud kembali? Berikut ini adalah fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh ketika ditanya tentang persatuan dalam shoum dan ‘idhul fithri dan bagaimana menwujudkannya.

Lanjutkan membaca “Bersatunya kaum muslimin dalam shoum dan ‘idhul fithri adalah tuntutan syar’i dan penjelasan bagaimana agar hal tersebut terwujud”

Iklan

Berdzikir dengan suara keras setelah sholat-sholat fardhu adalah sunnah

بسم الله الرحمن الرحيم

Salah satu sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang tidak dilakukan oleh sebagian besar ikhwah salafiyin di Indonesia  berkaitan dengan dzikir ba’da sholat adalah berdzikir dengan suara jahar, padahal Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz رحمه الله menyatakan bahwa ini adalah sunnah sebagaimana fatwa beliau dalam Majmu Fatawa-nya (11/191). Berikut ini akan saya tampilkan fatwa beliau :

مجموع فتاوى ابن باز (11/ 191)

س : ما حكم الذكر الجماعي بعد الصلاة على وتيرة واحدة كما يفعله البعض وهل السنة الجهر بالذكر أو الإسرار؟ .

ج : السنة الجهر بالذكر عقب الصلوات الخمس وعقب صلاة الجمعة بعد التسليم لما ثبت في الصحيحين عن ابن عباس رضي الله عنهما « أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، قال ابن عباس : كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته » (1) . أما كونه جماعيا بحيث يتحرى كل واحد نطق الآخر من أوله إلى آخره وتقليده في ذلك فهذا لا أصل له بل هو بدعة , وإنما المشروع أن يذكروا الله جميعا بغير قصد لتلاقي الأصوات بدءا ونهاية .

__________

(1) صحيح البخاري الأذان (805),صحيح مسلم المساجد ومواضع الصلاة (583),سنن النسائي السهو (1335),سنن أبو داود الصلاة (1003),مسند أحمد بن حنبل (1/367).

Terjemah :

Majmu’ Fatawa Asy Syaikh Ibnu Baaz (11/191)

Pertanyaan :

Apa hukum dzikir berjama’ah setelah sholat dengan cara satu suara sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang, dan apakah sunnah mengeraskan suara dzikir ataukah mempelankannya?

Jawab :

Sunnahnya adalah mengeraskan dzikir selesai sholat fardhu lima waktu dan sholat jum’at setelah salam sebagaimana telah tetap dalam Ash-Shohihain dari Ibnu Abbas –semoga Alloh meridhoi keduanya- : Bahwa meninggikan suara ketika berdzikir ketika manusia selesai dari sholat-sholat fardhu adalah ada pada masa Nabi صلى الله عليه وسلم , Ibnu Abbas berkata : ‘Saya mengetahui jika mereka selesai dari sholat fardhu ketika saya mendengarnya’. (1)

Adapun dzikir dengan cara berjama’ah sehingga setiap orang berusaha untuk sesuai dengan suara orang lain dari awal sampai akhirnya, dan mengikutinya, maka ini tidak ada asal usulnya bahkan itu adalah bid’ah, akan tetapi yang disyari’atkan adalah mereka berdzikir semua tanpa ada maksud menyatukan suara dari awal sampai akhir.

_________________

(1)      Shohih Al-Bukhori : Adzan (805), Shohih Muslim : Al-Masajid wa Mawadhi’us Sholat (583), Sunan An-Nasa’i : As-Sahwi (1335), Sunan Abu Dawud : Ash-Sholat (1003), dan Musnad Ahmad bin Hambal : (1/367).

Dari fatwa beliau di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Dzikir ba’da sholat-sholat fardhu dan sholat jum’at bersifat jahriyah, tanpa ada komando atau dipimpin oleh imam akan tetapi masing-masing berdzikir sendiri-sendiri, inilah sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersama sahabat-sahabatnya.

2. Berdzikir dengan jama’ah dengan dipimpin oleh imam setelah sholat fardhu dan sholat jum’at adalah bid’ah yang tidak ada contohnya dari Rosul dan para sahabatnya.

Mudah-mudahan Alloh Ta’ala senantiasa memberi taufiq pada kita untuk selalu iltizam dengan sunnah dan menghidupkan sunnah Beliau عليه الصلاة والسلام .

Akhukum fillah : Abu Shiddiq Asy-Syirbuni

Karawang, Senin 5 Rojab 1433 H/25 Juni 2012 M

Menjual barang yang bukan milikmu

بيع ما ليس عندك

Menjual barang yang bukan milikmu

السؤال :

ما هو حكم هذه الطريقة في التجارة ؟ مثال : شخص ما يضع إعلانا لبيع هاتف جوال ب 100 دينار ، أضع أنا هذا الإعلان على الانترنت ، يسألني شخص على الانترنت إن كنت أوافق على البيع ب 90 دينارا ، فأتصل بصاحب الإعلان ، واقترح عليه 80 ديناراً فيوافق على بيعي الهاتف ، ثم أذهب أنا وأوافق الذي اقترح الشراء ب 90 دينارا، ثم اشتري ب 80 ، وأبيع ب 90 ، وأكون قد ربحت 10 دنانير .

Pertanyaan :

Apa hukum cara dagang seperti ini ? Misal : Seseorang tidak memasang iklan untuk menjual hp seharga 100 dinar, kemudian saya memasangkan iklan hp ini di internet, seseorang di internet menawar  90 dinar jika saya sepakat untuk menjual, maka saya menghubungi pemilik iklan, saya mengusulkan padanya 80 dinar, dia pun menyetujuinya menjual hp tersebut. Kemudian saya pergi dan menyetujui orang yang menawar 90 dinar, lalu saya membeli hp itu 80 dinar dan menjualnya 90 dinar, jadi saya untung 10 dinar.
Lanjutkan membaca “Menjual barang yang bukan milikmu”

Mengqodho’kan shoum orang mati

Hadits : “Barangsiapa yang mati sedangkan dia mempunyai hutang shoum maka walinya wajib menggantikannya” adalah tidak khusus untuk nadzar.

Pertanyaan :

Hadits : “Barangsiapa yang mati sedangkan dia mempunyai hutang shoum maka walinya wajib menggantikannya” , yang saya ketahui hadits ini diperuntukkan untuk shoum nadzar, akantetapi seorang ulama dalam satu acara menyebutkan bahwa hadits tersebut untuk shoum romadhon, apakah ini shohih ataukah yang shohih adalah yang saya ketahui dari salahsatu kitab-kitab salafiyah ? Berikanlah jawaban untuk saya, semoga Alloh memberikan pahala kepada anda, Jazakumulloh khoiron.

Jawab :

Lanjutkan membaca “Mengqodho’kan shoum orang mati”